Lailatul Ijtima MWCNU Bugul Kidul Hadirkan PCNU Kota Pasuruan: Perkuat Struktur Dan Pembinaan Pengurus Hingga Ranting

  • Dec 07, 2025
  • Sahabat Restu

Kota Pasuruan, 7 Desember 2025 — Suasana Masjid An-Nur Krampyangan, Bugul Kidul, tampak semarak pada Ahad malam. Ratusan jamaah dan warga Nahdliyin memadati kegiatan Lailatul Ijtima yang kembali digelar oleh MWCNU Bugul Kidul, sekaligus menjadi ajang Upgrading dan Pembinaan Pengurus NU se-Kelurahan Bugul Kidul. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan dua kali dalam satu bulan, dengan lokasi bergilir di berbagai masjid wilayah Bugul Kidul.

Acara tersebut menghadirkan jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pasuruan, serta diikuti jajaran pengurus MWCNU, Ranting NU, dan Banom NU, di antaranya Muslimat, Fatayat, GP Ansor, Banser, Pagar Nusa, Ishari, Pergunu, IPNU-IPPNU, serta masyarakat umum. Kehadiran lintas banom menambah kemeriahan sekaligus menggambarkan soliditas struktur NU di akar rumput.

Kegiatan dibuka dengan Pembacaan Diba’ yang dilantunkan oleh Remaja Masjid Krampyangan. Nuansa religius dan khidmat tampak sejak awal acara, menjadi pembuka yang indah sebelum memasuki pengajian inti.

Pengajian disampaikan oleh KH. Sholeh Romli, dengan mengangkat Bab Sholat Berjamaah. Dalam penjelasannya, beliau menekankan pentingnya penataan imam dan makmum dalam sholat berjamaah.Beliau menyampaikan salah satu poin penting :

 “Syarat makmum pada poin ketiga, yang ditunjuk sebagai imam harus benar-benar imam. Tidak boleh justru makmum kedua yang mengambil posisi itu.”

Penjelasan tersebut membuat jamaah memahami kembali kaidah fiqih dasar yang sering dianggap sepele, namun sangat berpengaruh dalam keabsahan sholat berjamaah.

Sesi Tanya Jawab: Mengupas Khas Masjid, Dana Wakaf, hingga Fiqih Tayamum

Sesi tanya jawab berlangsung hidup dengan beragam persoalan yang dihadapi pengurus masjid dan jamaah di wilayah Bugul Kidul.

Pertanyaan pertama datang dari Ustadz Rofik dari Kelurahan Kepel, mengenai kondisi khas masjid yang sering kosong.KH. Sholeh Romli menegaskan:

“Khas masjid harus dipergunakan sesuai dengan kemaslahatan masjid. Pengurus harus amanah dan paham prioritas.”

Pertanyaan kedua disampaikan oleh jamaah dari Kelurahan Bakalan terkait tanah wakaf dan penggunaan dana dari khas MWCNU untuk pembangunan masjid. Isu ini menjadi perhatian penting karena bersinggungan dengan aturan wakaf serta kewenangan organisasi.

Pertanyaan terakhir berasal dari Pak Latif, Bendahara Umum MWCNU Bugul Kidul, yang menanyakan hukum tayamum dalam perjalanan saat tidak menemukan sumber air.KH. Sholeh Romli menjelaskan:

“Menurut Mazhab Al-Hanafiyah, tetap wajib melaksanakan sholat meski dengan tayamum jika air tidak ditemukan.”

Diskusi interaktif tersebut semakin memperkaya pemahaman jamaah dalam mengelola organisasi dan menjalankan ibadah sesuai tuntunan Aswaja.

Arahan Ketua MWCNU: Perkuat Pembinaan Pengurus dan Tata Organisasi

Ketua MWCNU Bugul Kidul, Ustadz Sa’dullah, dalam sambutannya menegaskan pentingnya upgrading pengurus sebagai langkah penguatan struktur NU hingga tingkat ranting. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini akan terus dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan.

“Pembinaan pengurus sangat penting agar organisasi berjalan selaras dengan visi NU dan kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi pembinaan oleh dua narasumber: Haji Suharto dan Ustadz Muhaimin.

Materi Upgrading: Perkum NU, Validitas Organisasi, dan Tugas MWCNU

Dengan gaya penyampaian yang santai namun berbobot, H. Suharto menekankan pentingnya konsistensi dalam kepengurusan. Ia mengajak seluruh peserta untuk tetap rileks namun fokus dalam memahami tugas-tugas struktural NU.

Ustadz Muhaimin menyampaikan materi utama terkait Peraturan Perkumpulan NU (Perkum NU) sesuai keputusan Konferensi NU 2022, visi-misi organisasi, serta wasiat para masyayikh.

Beliau menegaskan pentingnya NU membangun organisasi yang koheren, kuat secara administrasi, dan disiplin berdasarkan tiga validitas:

1. Validitas Organisasi

2. Validitas Administrasi

3. Validitas Kaderisasi

Selain itu, beliau merinci Tugas Utama MWCNU, yaitu:

Memperkuat dakwah Aswaja An-Nahdliyah

Mengkoordinasi kegiatan ke-NU-an tingkat kecamatan

Menjadi rumah besar perjuangan yang menghubungkan PCNU dengan warga NU tingkat bawah

Beliau juga menjelaskan fungsi MWCNU, mulai dari implementasi kebijakan, dakwah dan pembinaan umat, koordinasi dan penggerakan, administrasi dan keuangan, hingga peran perwakilan.

Kegiatan MWCNU dan Ranting NU: Membersamai Masyarakat

Materi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai kegiatan-kegiatan penting MWCNU serta Ranting NU, yang meliputi:

1. Penguatan organisasi

2. Kegiatan rutin keagamaan

3. Pembinaan pendidikan

4. Pemberdayaan ekonomi

5. Pelayanan sosial dan kerukunan beragama

Program-program tersebut menegaskan bahwa NU bekerja tidak hanya di wilayah ibadah, namun juga sosial, pendidikan, dan pemberdayaan umat.

Wasiat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari: Ranting adalah Kekuatan NU

Menutup rangkaian pembinaan, disampaikan kembali pesan agung pendiri Nahdlatul Ulama yang tertera dikaryanya Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari:

“Kekuatan NU itu ada di Pengurus Ranting (PRNU) dan Pengurus Anak Ranting (PARNU).”

Wasiat ini menjadi peneguh bahwa kekuatan organisasi NU sesungguhnya berada di tangan pengurus yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.(SM)