Lakpesdam NU Kota Pasuruan Gelar Haul Gus Dur, Teguhkan Islam Ramah dan Indonesia Beradab

  • Dec 14, 2025
  • Bang Udin

Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, derasnya arus polarisasi, serta lunturnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Pasuruan kembali menegaskan posisinya sebagai garda intelektual Nahdlatul Ulama. Melalui kegiatan pungkas di akhir periode kepengurusan, Lakpesdam NU Kota Pasuruan secara istiqomah menggelar Haul KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Minggu malam, 14 Desember 2025, bertempat di Gedung Kampus Universitas PGRI Wiranegara (Uniwara), Kota Pasuruan.

Haul Gus Dur ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan ikhtiar ideologis dan kultural untuk merawat ingatan kolektif bangsa terhadap sosok Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional, Guru Bangsa, sekaligus tokoh dunia yang pemikiran dan perjuangannya melampaui sekat agama, etnis, dan ideologi politik.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Khotmil Qur’an, sebagai bentuk tawassul dan ikhtiar spiritual agar nilai-nilai keislaman yang ramah, membumi, dan berkeadaban sebagaimana dicontohkan Gus Dur terus hidup di tengah masyarakat. Tradisi ini sekaligus menjadi penegasan bahwa perjuangan kebangsaan dalam perspektif NU selalu berpijak pada spiritualitas yang kuat.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan Dialog Kebangsaan Generasi Muda, yang menghadirkan ruang diskusi kritis dan reflektif bagi kaum muda. Dalam dialog ini, Lakpesdam NU Kota Pasuruan menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai penjaga akal sehat publik, penolak politik identitas, serta pengawal nilai toleransi dan kemanusiaan. Nilai-nilai inilah yang selama hidupnya secara konsisten diperjuangkan oleh Gus Dur, bahkan ketika harus berhadapan dengan tekanan kekuasaan dan arus mayoritas.

Puncak acara diisi dengan sarasehan kebangsaan bersama Gus Fahmi, cicit Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dalam sarasehan tersebut, Gus Fahmi mengajak seluruh peserta untuk tidak sekadar mengagungkan Gus Dur sebagai simbol, tetapi menjadikannya sebagai nilai hidup dan laku perjuangan. Gus Dur, menurutnya, adalah contoh nyata keberanian moral, keteguhan sikap, dan konsistensi membela kaum lemah tanpa pamrih.

Sarasehan ini menjadi ruang refleksi mendalam tentang bagaimana Gus Dur menempatkan Islam sebagai kekuatan pembebas, bukan alat penindasan; sebagai sumber rahmat, bukan legitimasi kebencian. Pesan-pesan tersebut dinilai sangat relevan di tengah situasi kebangsaan yang masih diwarnai intoleransi, ketimpangan sosial, serta krisis keteladanan.

Lakpesdam NU Kota Pasuruan menegaskan bahwa komitmen menggelar Haul Gus Dur akan terus dijaga kapan pun dan selama hayat masih dikandung badan. Istiqomah ini merupakan bentuk cinta, kesetiaan, dan tanggung jawab moral kepada Gus Dur sebagai guru bangsa yang telah meletakkan fondasi kuat bagi Indonesia yang plural, adil, dan beradab.

Lebih dari sekadar mengenang, Haul Gus Dur menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Nilai-nilai Gus Dur harus terus dihidupkan dalam kerja-kerja intelektual, sosial, dan kebangsaan. Di sinilah Lakpesdam NU Kota Pasuruan meneguhkan diri untuk terus berdiri di garis depan, merawat warisan pemikiran Gus Dur agar tetap relevan dan membumi di setiap generasi.(SM)