Sosialisasi Peran Nilai-Nilai Spiritual Dalam Membangun Masyarakat Harmonis

  • Nov 09, 2025
  • Asyraf Musyaffa

Dalam upaya menggiatkan sosialisasi mengenai nilai-nilai spiritual sebagai pondasi utama dalam membangun masyarakat yang harmonis, Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Kota Pasuruan menggelar acara bertema "Sosialisasi Peran Nilai-Nilai Spiritual dalam Membangun Masyarakat Harmonis".

Hotel Transit Kota Pasuruan, Jl. Jend. A. Yani No. 8 Gadingrejo, Kota Pasuruan 9 November 2025 Minggu siang pada pukul 13.00 WIB sampai Selesai.

Acara ini dihadiri oleh dua tokoh sentral PCNU Kota Pasuruan, yaitu Rois Syuriah KH. Abdul Khalim Mas'ud dan Ketua PCNU KH. H.M. Nailur Rokhman yang akrab disapa Gus Amak. Kehadiran mereka tidak hanya menyemarakkan pesan penting bagi para peserta, tetapi juga menegaskan peran ulama sebagai penjaga nilai-nilai keislaman di tengah dinamika masyarakat modern.

Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, terus berkomitmen untuk memperkuat harmoni sosial melalui pendekatan yang inklusif. Acara ini menjadi wadah bagi para peserta untuk mendalami bagaimana nilai-nilai spiritual dapat mempersatukan umat, terlepas dari latar belakang organisasi, dan mendorong partisipasi aktif dalam mewujudkan masyarakat yang damai. Lebih dari sekadar diskusi, kegiatan ini juga merangkul pesan-pesan inspiratif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sambutan Inspiratif dari Gus Amak Dalam kesempatan tersebut, Gus Amak menyampaikan pandangan mendalam mengenai perbedaan antara pendapat dan ukhuwah (persaudaraan) Islam. Beliau menekankan bahwa Islam memungkinkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama, namun ukhuwah tetap menjadi ikatan yang tak tergoyahkan. "Empat mazhab dalam Islam memiliki pandangan yang berbeda, namun tetap saling menghormati. Prinsip ini pula yang harus diterapkan oleh warga NU," ungkap Gus Amak.

Beliau menambahkan, "Pengurus NU harus menjadi wasathiyah (moderat), menjadi penengah yang mendamaikan. NU itu wasit, bukan buka ngejagain gol. Kalau ikut berpihak dalam konflik, yang jadi korban adalah masyarakat.

"Acara ini juga mengintegrasikan elemen digital modern, seperti sosialisasi melalui media sosial dan platform digital untuk menjangkau generasi muda yang lebih melek teknologi. Gus Amak menyoroti tantangan era digital yang sering memunculkan provokasi, namun justru menjadi peluang untuk menyebarkan nilai-nilai harmonis. "Beda pandangan boleh, sanggat boleh. Tapi harus berkemampuan akhlaq ahlu sunnah wal jamaah," pesan beliau.

Di akhir tausiyah, Gus Amak mendorong warga NU untuk terus mengelola lembaga hadharah (pendidikan NU) seperti KH. Hasyim Asy'ari, sambil tetap berusaha menjadi pengurus dan kader yang layak dipercaya umat.

Caption dan Pesan Kunci dari Gus Amak yang mendalam 

Berikut adalah rangkuman caption dan pesan-pesan inti yang disampaikan Gus Amak selama acara:

NU bukan ikut bertarung,tapi menjadi penengah.

Harmoni adalah tugas kita semua.

Berbeda pendapat itu wajar.

Menjaga persaudaraan itu wajib.

Gus Amak Pengurus NU bukan membanggakan Mbah Hasyim saja, tapi berusaha agar dibanggakan beliau.

Jangan ikut arus kebencian digital.

Pegang akhlaq ahlu sunnah wal jamaah.

NU hadir sebagi wasit yang mendamaikan,Bukan pemain yang memecah.

Ukhuwah itu kekuatan,Jangan dikorbankan oleh ego dan provokasi.

Acara sosialisasi ini diharapkan menjadi momentum berkelanjutan bagi PCNU Kota Pasuruan dalam mempromosikan nilai-nilai spiritual sebagai perekat masyarakat. 

Dengan semangat wasathiyah dan ukhuwah Islamiyah, NU terus berkontribusi membangun Indonesia yang harmonis dan inklusif.(SM)